AyiD

The Real Me

Wacana Kewajiban Untuk Memilih

with 2 comments

Diktum Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Tentang Pemilu

Setelah melalui perbincangan hampir sehari penuh dalam rapat Komisi Masail Asasiyah Wathaniyah (Masalah Strategis Kebangsaan), kemudian dikerucutkan dalam Tim Perumus dan diajukan ke sidang pleno Ijtima Ulama, disepakati dan diktum keputusannya sebagai berikut:

  1. Pemilihan umum dalam pandangan Islam adalah upaya untuk memilih pemimpin atau wakil yang memenuhi syarat-syarat ideal bagi terwujudnya cita-cita bersama sesuai dengan aspirasi umat dan kepentingan bangsa.
  2. Memilih pemimpin dalam Islam adalah kewajiban untuk menegakkan imamah dan imarah dalam kehidupan bersama
  3. Imamah dan imarah dalam Islam menghajatkan syarat-syarat sesuai dengan ketentuan agama agar terwujud kemaslahatan dalam masyarakat.
  4. Memilih pemimpin yang beriman dan bertakwa, jujur (siddiq), terpercaya (amanah), aktif dan aspiratif (tabligh), mempunyai kemampuan (fathonah), dan memperjuangkan kepentingan umat Islam hukumnya adalah wajib.
  5. Memilih pemimpin yang tidak memenuhi syarat-syarat sebagaimana disebutkan dalam butir 1 (satu) atau tidak memilih sama sekali padahal ada calon yang memenuhi syarat hukumnya adalah haram.

Hasil ijtima’ Komisi Fatwa MUI tentang Pemilu ini sangat menarik untuk diperdebatkan.
Pertama

Semenjak awal Islam para ahli Kalam dan pakar Fiqh tidak satu kata dalam menentukan apakah mengangkat atau memilih pemimpin wajib atau tidak. Tegasnya, tidak ada kesepakatan dalam doktrin Islam yang mewajibkan memilih pemimpin ( Khalifah, Imam, Sultan atau Amir ).

Sedangkan menurut UU no.3 Tentang Pemilihan Umum Pasal 1 ayat (6) Pemberian suara dalam pemilihan umum adalah hak setiap warga negara yang memenuhi syarat untuk memilih.

Kedua

Memang kebanyakan ulama Syi’ah dan Sunni berpaham bahwa kekuasaan politik adalah keniscayaan dan memilih pemimpin adalah wajib hukumnya. Tetapi pemimpin yang dimaksud harus memiliki sifat yang dijelaskan dalam fatwa MUI butir ke-4 diatas. Masalahnya sekarang adalah adakah pemimpin yang memiliki semua sifat diatas. Beriman, bertakwa, terpercaya, dan yang paling utama adalah adil. Apakah kita yakin bahwa calon pemimpin kita memiliki semua sifat tersebut? Apabila tidak ada salah satu dari sifat tersebut seseorang layak untuk jadi pemimpin?

Kesimpulan

Fatwa MUI mengharamkan golput menjadi hal yang menurut saya sangat bermuatan politis. Memilih, berdasarkan Undang-undang merupakan hak bukan kewajiban. Apabila fatwa ini didasarkan pertimbangan untuk menaikkan jumlah partisipan dalam pemilu mendatang, sebaiknya kita benahi dulu pendidikan politik di negeri kita. Tidak perlu mengharamkan golput kalau masyarakat memiliki kesadaran berpolitik yang tinggi dan para politikus bisa dipercaya. Fatwa ini hanyalah sebuah keputusan yang sulit untuk ditaati karena syarat kriteria pemimpin yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh calon-calon pemimpin yang ada saat ini.

Written by Dardiri

February 4, 2009 at 7:35 PM

Posted in Agama, Politik

Tagged with ,

2 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. “…Menurut saya fatwa ini hanyalah sebuah keputusan yang sulit untuk ditaati karena syarat kriteria pemimpin yang sangat sulit untuk dipenuhi oleh calon-calon pemimpin yang ada saat ini…”

    Wah sayah setojoh sekaleee sama Bro Dardiri… Lagipula sayah kan gak mengenal baik kepribadian calon pemimpin yang akan saya piliiih…😀

    munyukmentel

    February 5, 2009 at 3:04 AM

  2. tapi saya tidak menyarankan untuk golput lo ya…..

    Dardiri

    February 5, 2009 at 7:36 AM


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: